Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Tak Hanya Pelabuan Ratu, Ada juga Ujung Genteng

Written By Kampus Kita Oke on Sabtu, 08 Februari 2014 | 07.09

SUKABUMILokasi pariwisata di Kabupaten Sukabumi tak hanya Pelabuhan Ratu, masih ada pantai terkenal lainya. Salah satunya pantai Ujung Genteng. Pantai ini merupakan saah satu tempat pariwisata menarik yang menawarkan keindahahan alam. Terlebih bagi Anda yang mempunyai hobby fotografi. Suasana yang goodlook sangat cocok untuk menghilangkan penat kita sehari-hari.
Pantai Ujung enteng banyak meyimpan panorama alam nan elok. Selain pasirnya yang putih dan masih alami, Anda juga dapat menikmati air laut yang terlihat biru jernih. Begitu banyak sudut keindahan pantai yang dapat dieksplorasi pada saat Anda berkunjung. Bahkan, jika hanya datang beberapa jam, rasanya tidak tidak cukup untuk menikmati keseluruhan suasana di pantai yang satu ini.
Ujung Genteng menawarkan pesisir pantai yang menarik seperti bersantai di tepi pantai atau pun memancing di sekitar pinggir laut. Kedalaman pantai yang begitu dangkal kita dapat melihat suasana dalam air, yang penuh terumbu karang yang masih alami, ikan-ikan, dan binatang lautnya.
Keindahannya tak perlu diragukan lagi. Pasirnya yang putih, ditimpali dengan pohon kelapa, yang akan menambah semarak suasana Anda ketika menghabiskan wisata di tempat ini. Terlebih di waktu senja.
Rute dari Bandung
Ujung Genteng terbilang pantai memiliki jarak tempuh jauh. Terlebih jika kita memulai aktivitas liburan dari Kota Bandung. Dari Bandung, jarak tempuhnya sekitar  215 km,  Anda bisa istirahat di beberapa titik seperti istirahat pertama, misalnya di Kota Sukabumi, dan yang kedua istirahat di daerah Jampang Surade.
Setelah kita memulai perjalanan dari Bandung menuju sukabumi, kita hanya akan melewati satu kabupaten saja, yaitu Cianjur. Waktu yang akan dihabiskan kemungkinan besar hanya sekitar 1,5 jam untuk Cianjur, Setelah itu 1,5 jam lagi menuju Kota Sukabumi, untuk memulai perjlanan panjang menuju Ujung Genteng.
Setelah  di Kota Sukabumi, saatnya Anda menuju  tujuan pantai Ujung Genteng,  yang dengan melewati tiga kecamatan. Mula-mula kita akan melewati  Kecematan Jampang Tengah waktu yang kita habiskan untuk ke kecematan pertama kurang lebih sekitar 1 jam, karena jalan masih terbilang kurang bagus.
Kecamatan Jampang Kulon menjadi rute selanjutnya. Di wilayah ini kemungkinan besar Anda tidak akan banyak menemukan jalan yang rusak, pasalnya sudah diperbaiki  pemerintah setempat. Akan tetapi, rute ini perlu konsentrasi,  karena jalannya cukup berkelok. Di sini perjalanan ini, Anda akan disuguhi pemandangan dan bukit-bukit kecil yang indah nan menawan.
Saat berkendara pada perjalanan liburan, perlu banyak konsentrasi. Terlebih saat menuju Jampang Surade ini, karena Anda akan melewati jalan curam dan berkelok-kelok. Akan tetapi, Anda akan disuguhi pemandangan kebun teh di sekitar jalan. Di wilayah ini juga banyak anak-anak yang masih menggunakan alat permainan tradisional di sekitar jalan. Salah satunya Egrang. Ini tentunya dapat menjadi liburan Anda yang berbeda dengan liburan sebelumnya.

Perjalanan kian dekat. Ujung Genteng, dari Surade hanya   menempuh  jarak 17 km saja. Dengan jalan yang sudah baik, maka jarak sejauh itu tidak akan terasa jauh. Suasana di daerah tersebut umumnya sudah ramai, kendati memang ada beberapa tempat masih sepi. Saat berada Anda di Ujung Genteng, ini waktu tepat untuk memilih tempat wisata yang ingin kita singgahi. seperti tempat penangkaran penyu, atau hanya sekadar bermain di pinggir pantai saja. [] M. Rizki T.S | BandungOke.com

Ini Dia Pesona Indah Curug Cikaso


SUKABUMI - Lagi-lagi Kabupaten Sukabumi mempunyai tempat wisata yang membuat mata kita terkagum akan keindahanya. Selain pantai selatan yang terkenal dengan ikan dan gelombang ombaknya, sekarang saatnya kita untuk melihat betapa menariknya sebuah curug yang terletak di Kabupaten Jampang Surade.
Curug Cikaso namanya. Curug ini merupakan aliran air dari anak sungai Cikaso yang bernama Cicurug, akan tetapi warga setempat dan kebanyakan orang menyebut curug ini dengan sebutan Curug Cikaso. Curug ini mempunyai tiga titik air terjun yang berdampingan satu sama lain. Namun satu lagi, curug yang terletak di bagian lainnya tidak tampak jelas, Karena curug ini tersembunyi, dengan tebing yang menghadap ke timur.
Suasana di sekitar curug begitu menghibur, terlebih arus airnya yang tidak begitu deras membuat sebagian pengunjung memberanikan diri untuk berenang atau bermain air saja di sebagian bebatuan yang berada di pinggir sungai. Selain itu, warna air yang terdapat di Curug Cikaso ini berwarna hijau kebiru-biruan yang membuat rasa penasaran untuk berenang pun semakin menjadi-jadi.
Masing-masing air terjun mempunyai nama masing-masing, yang kiri bernama Curug Asepan, tengah bernama Curug Meong, dan kanan curug yang letaknya tersembunyi ini bernama Curug Aki. Lalu ketiga curug ini mempunyai ketinggian kurang lebih 80 meter dan lebar tebingnya sekitar 100 meter.
Lokasi Curug Cikaso
Jarak untuk curug Cikaso ini hanya 8 Km saja dari Jampang Surade. Dengan kondisi jalan yang sudah baik, dapat ditempuh kurang lebih sekitar 15 menit saja. Lalu setelah sampai di Curug Cikaso kita akan membayar jasa parkir, dan pihak pengelola curug tersebut dengan sebesar Rp. 7000. Setelah itu kita akan diberikan pilihan untuk jasa transportasi menuju curug tersebut.
Jika kita menggunakan jasa kapal cukup dengan harga Rp. 25.000 kita akan mendapatkan travelling menuju arah tersebut dengan jalur khusus sungai. Akan tetapi, jika kita tidak menggunakan kapal, dengan berjalan kaki pun tidak kalah menariknya. Karena kita akan disuguhi pemandangan berupa hamparan sawah hijau dalam perjalanan kita. [] Muhammad Rizki T.S | BandungOke.com

Melongok Pesona Keindahan Kawah Kamojang

Written By Kampus Kita Oke on Senin, 20 Januari 2014 | 00.11

GARUT-- Gunung Kamojang atau sering pula disebut Kawah Kamojang, merupakan taman wisata eksotis yang tak kalah populer dengan tempat wisata lainnya. Tak ayal di akhir pekan, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke taman wisata ini. Salah satu tujuannya tentu untuk rehat sejenak dari kesibukan kerja yang kerap menyita waktu.
Bagi Anda yang belum pernah mengunjungi tempat wisata Kawah Kamojang, boleh jadi tak mudah ke lokasi ini. Pasalnya, posisi tempat dan jalan yang harus dilalui terbilang berliku-liku. Lokasinya terletak di kawasan wisata cagar alam Desa Cibeet dan Desa Randukurung, perbatasan antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.
Kontur jalan yang nanjak-mudun (naik-turun) menjadi kendala bagi pengendara pemula. Perlu hati-hati melaluinya. Namun pemandangan alam yang sangat indah bisa mengobati kesulitan menempuh perjalanan. Tak heran bila pemandangan nan mengagumkan in memiliki harga jual tinggi bagi tempat yang satu ini. Banyak deretan pohon pinus yang menghiasi sepanjang jalan.
Harga tiket masuk yang sangat murah, juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp.11.000-, bagi kendaraan roda dua dan Rp. 60.000-, bagi kendaraan roda empat, sudah bisa menikmati keindahan alam yang masih indah dan sangat eksotis ini.
Pesona Tak Biasa
Untuk sampai ke taman wisata Kawah Kamojang, Anda bisa menempuh perjalanan  selama 3 jam dari Kota Bandung, melalui jalan tembus Kec. Rancaekek dan Kec. Majalaya, dengan jarak tempuh sepanjang 40 Km. Dan 2 jam dari Kota Garut melalui jalan tembus Kec. Samarang dengan jarak tempuh sepanjang 25 Km.
Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi dengan pemandangan yang tak biasa. Anda akan menemui pipa-pipa besar PLTP yang di kelola PT. Pertamina dan PT. Indonesia Power, juga deretan pohon pinus yang membentang di pinggiran jalan menuju Kawah Kamojang serta aroma bau belerang yang pekat menusuk hidung kita.
Di sini terdapat 23 kawah dan 2 di antaranya berbentuk danau dengan asap yang mengepul dari permukaan airnya. Danang Darmanto (34), seorang pengunjung asal Bogor menuturkan, baru kali ini ia menemukan tempat wisata yang harga tiketnya tidak menguras kantong.
Selain itu, harga tiket yang amat murah sangat berbanding terbalik dengan keindahan alamnya. “Masih asri dan nyaman untuk mengajak seluruh keluarga," ucapnya, Sabtu (04/01).
Senada dengan Danang, Gina Sopyana (21) salah satu pengunjung taman wisata Kamojang mengatakan hampir ke sekian kalinya ia datang ke tempat ini untuk rehat sejenak dari aktivitas sehari-hari yang amat menyibukan dalam pekerjaannya.
"Pemandangan alam yang sangat indah dan dihiasi banyak deretan pepohonan pinus dan berbagai tumbuhan hijau sehingga membuat fresh,” tambah Pipit yang ditemui di tempat wisata Kawah Kamojang di waktu yang sama. [] Wisma Putra | Jurnalistik UIN Bandung | BandungOke.com

Ini Dia Situs Megalith Gunung Padang

Written By Kampus Kita Oke on Minggu, 19 Januari 2014 | 00.09

Oleh NANIK ANDRIYANI

SUATU saat di salah satu stasiun televisi, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memperkenalkan situs yang berada di Kabupaten Cianjur. Rasanya tempat itu sudah tidak asing bagiku, yang berdomisili di Sukabumi. Ketika pergi kuliah ke Bandung, aku sering melewati jalur tersebut. Dari pinggir jalan raya Gekbrong, terdapat tulisan “Situs Megalith Gunung Padang 20 Km.” Seketika hati ini tertantang untuk menginjakkan kaki ke sana, hingga akhirnya dengan penuh rasa penasaran aku pun pergi berdua bersama temanku.
Situs Megalith Gunung Padang merupakan salah satu peninggalan manusia purba. Konon menurut para arkeolog, situs ini sudah berusia sejak 4700 SM. Kawasan ini terletak di Kampung Cimanggu Desa Karya Murti Kec. Cempaka Kab. Cianjur, Jawa Barat. Orang pertama yang menemukan situs ini ialah seorang  arkeolog Belanda, tahun 1914. Tahun 1978, warga setempat menginformasikan ke pemerintah Cianjur. Sejak saat itu, pemerintah mulai memperhatikan pelestarian Gunung Padang ini. Tempat ini dulunya hanya hutan yang dipenuhi semak belukar, tapi kini menjadi bersejarah.
Kami melakukan perjalanan ini dengan sepeda motor supaya cepat menempuhnya. Menuju lokasi, kami memerlukan waktu 45 menit atau berjarak sekitar 20 KM. Jalan cukup bagus. Kontur jalan relatif banyak tikungan, karena memang merupakan daerah pegunungan. Di KM 14 memasuki Kp. Cibeber, kami disuguhi perkebunan teh yang sangat indah dan udara sejuk yang begitu menusuk kulit. Jangan takut untuk melalui tempat ini, soalnya masih banyak rumah penduduk dan pemetik teh.
Sesampainya di lokasi, kamia bertemu dengan juru kunci yang juga bertugas sebagai tour guide. Hanya dengan seribu rupiah kita dapat masuk menyusuri Gunung Padang. Dengan tarif begitu murah, banyak wisatawan berkunjung ke tempat ini. Menurut penduduk setempat, ada 3 tujuan wisatawan mengunjungi tempat ini, yakni ziarah, berwisata, dan penelitian.
Sabtu dan Minggu, tempat ini selalu ramai, sampai-sampai tempat parkir tidak cukup menampung. Jalan yang sempit menghadirkan kemacetan untuk mengakses jalan menuju tempat situs. Jadi, kalau mau puas datangnya hari-hari biasa saja, dijamin puas sekali rasanya menikmati indahnya Gunung Padang.
Perjalanan dimulai dengan menaiki anak tangga. Terdapat dua jalan alternatif, jalur cepat dan santai. Untuk jalur cepat, diperkirakan jarak ditempuh sekitar 130 meter, dan jalur santai 180 meter. Ketika sampai di atas, ternyata puncak Gunung Padang merupakan atap sebuah bangunan. Menurut para ahli, di bawah Gunung ini masih banyak ruangan yang belum terdeteksi. Jenis batu unik berbentuk balok juga menjadi daya tarik wisatawan. Jika dilihat struktur dan warnanya yang abu, batu ini tergolong batu andesit, batuan yang dihasilkan dari pendinginan larva setelah adanya gunung meletus.
Para peneliti sudah menggali sedalam 20 meter, yang harusnya bisa lebih. Hal ini dikarenakan pipa yang digunakan kurang panjang, jadi terhenti pada 20 meter. Rating Gunung Padang sekarang menduduki peringkat ke-1 atau ke-2 di dunia, sebagai situs tertua mengalahkan situs yang ada di Peru dan Mesir. Situs megalith ini juga menjadi situs terbesar se-Asia Tenggara.

Serba Lima di  Gunung Padang
Bila diamati, angka lima memang sesuatu yang amat bernilai. Misalnya rukun Islam ada lima, pancasila, jari tangan kita, dan masih banyak lagi. Begitu pun yang ada di Gunung Padang ini. Keistimewaan serba lima menjadi daya tarik, di antaranya gunung ini mempunyai lima teras dan undakan. Undakan terlihat baik dari kiri atau kanan, maupun di tengah ruangan, masing-masing berjumlah lima. Hal ini membuat pengunjung terkagum-kagum.
Menurut pengelola wisata, Abah Nanang (39), tiap teras mempunyai nama dengan filosopinya masing-masing. Untuk teras pertama ada Eyang Pamuka Lawang, yang melambangkan ucapan selamat datang. Bila dikaitkan dengan ajaran Islam, sama halnya ketika seseorang baru memeluk Islam, maka dianjurkan mengucapkan dua kalimat syahadat. Selain itu, terdapat Gunung Masigit, yang berarti pembuka mesjid untuk tempat beribadah nenek moyang kita.
Teras kedua disebut Mahkota Dunya dan pembatas berupa batu tapak Kujang (senjata tradisional Sunda) dan tapak kaki maung yang diartikan orang zaman dulu sebagai manusia tangguh. Jumlah tapak maung tersebut terdapat sembilan jari, melambangkan kekuatan Wali Songo. Mahkota Dunya simbol menjalankan harta di jalan Allah, seperti zakat, supaya harta yang kita miliki menjadi berkah.
Pada teras ketiga terdapat Keramat Nunggal. Keempat terdapat Batu Gendong. Menurut pengelola, siapa yang bisa mengangkat batu ini, berarti dia sudah membulatkan niatnya untuk segala sesuatu. Tentu yang paling utama dengan mengagungkan Yang Maha Tunggal. Terakhir  Batu Singgasana. Jika dapat menempuh semuanya, kita beristirahat dan jangan lupa tetap harus memohon doa kepada Yang Maha Esa.
Keunikan lain gunung ini, dikelilingi lima gunung, yakni Gunung Karuhun, Emped, Malati, Pasir Malang, dan Batu. Selan itu, Gunung Padang ini berorientasi ke barat laut, atau 5 derajat dari Lintang utara. Gunung ini juga menghadap ke 5 gunung yaitu, Gunung Batu, Pasir Bogor, Kencana, Gede, dan Pangrango. Mata air yang terdekat juga ada lima sumber.
Batu yang terdapat di Gunung Padang ini hampir 90% berbentuk segi lima. Biasanya alas atau muka berbentuk segitiga atau persegi, tapi di sini begitu berbeda. Menurut pemandu wisata Abah Nanang (39), sampai saat ini belum ada arkeolog manapun yang bisa memastikan dari mana batu-batu itu berasal. Entah dari letusan Gunung Gede atau manusia purba dulu yang membawanya dari suatu tempat, karena di sana tidak ditemukan lagi jenis batuan yang sama.
Jika kita tafsiran secara kasar, semua itu seperti terkait dengan jumlah jari tangan dan kaki yang masing-masing lima. Tingkatan kehidupan dari mulai alam ruh, rahim, dunia, kubur, dan akhirat. Dalam ajaran Islam dkenal rukun Islam yang jumlahnya ada lima yaitu, syahadat, shalat, zakat, puasa, dan naik haji.
Menurut Abah Nanang, saat dia mengenalkan situs Megalith kepada bu haji pemilik toko material di Sukabumi, bu haji itu terkejut. Setelah melihat foto yang dibawa Abah Nanang, bu haji bilang batu yang ada di situs mirip Jabbal Nur yang berada di Mekkah. Jabbal Nur berarti gunung bercahaya, sama seperti arti Gunung Padang. Dalam bahasa daerah, kata “padang” berarti terang. Jika diartikan, keduanya mempunyai arti yang sama. Subhanallah.

Prabu Siliwangi dan Manusia Purba
Di Gunung Padang ini, dulunya awal peradaban Sunda. Sunda di sini bukan berarti etnis atau golongan, tetapi suatu peradaban. Sunda dulu berarti Nusantara, bukan seperti sekarang yang terbatas hanya dengan menyebutkan Jawa Barat. Ini bukan lagi salah paham, tapi sudah berbalik paham salah. Ditilik lebih lanjut orang Sunda memang telah maju dari zaman dulu.
Sebenarnya, 4700 SM adalah waktu yang sangat lama, jika dibandingkan dengan Atlantis. Ternyata Sunda Land sudah maju terlebih dahulu. Peradaban maju telah teraplikasikan oleh zaman Prabu Siliwangi dan putranya Prabu Kian Santang atau Rohmat Suci. Konon katanya, Gunung Padang ini dahulu menjadi kerajaan Prabu Siliwangi. Seperti arti dari kujang sendiri adalah  “ku” yang berarti “oleh” atau dan “ujang” sebutan untuk anak lelaki, jika digabung menjadi “oleh kamu”. Kujang mempunyai pegangan, jadi dapat diartikan “peganglah kerajaan ini oleh kamu”. Ada sebagian yang berpendapat kerajaan ini diturunkan oleh Prabu Siliwangi untuk putranya Prabu Kian Santang.
Menurut penjual makanan, Abah Yanto (50), zaman dahulu tempat ini adalah pemukiman manusia purba. Batuan tersebut disinyalir dibawa manusia purba ke tempat ini, entah dari mana. Pada suatu saat, pasukan Prabu Siliwangi datang ke sini. Entah dengan kesepakatan atau pertempuran, akhirnya tempat ini menjadi milik Kerajaan Siliwangi. Tapi karena suatu hal--entah apa itu--pembangunan terhenti, maka terlihat sekarang seperti bangunan yang belum selesai.
Pendapat yang terlontar berbeda dengan Abah Nanang yang beranggapan bahwa ini memang bangunan yang sudah berdiri. Keadaan batuan yang berserakan mungkin karena dimakan usia. Entah mana yang benar. Wa’llahu’alam bisshowaf. Penasaran? Silakan, kunjungi saja situs bersejarah ini!
Sebagai generasi muda, harus bangga dengan sejarah nenek moyang, dan melestarikannya. Menyenangkan lho, hiking kaya gini, banyak ilmu alam yang akan kita dapatkan. Kekayaan alam ini belum seberapa, sepertinya masih akan terus ada peninggalan sejarah yang akan bermunculan.
Mencari fakta sejarah itu sungguh menyenangkan. Ketika kita tahu bahwa negara kita ini begitu banyak yang bernilai bersejarah, dari mulai bambu runcingnya dan keajaiban-keajaiban yang diakui dunia. Tentu kita akan bangga, begitu hebatnya nenek  moyang kita dahulu. Kita sebagai penerus, jangan hanya berdiam saja, bergerak menuju perubahan. 

Nanik Andriyani, Mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ranca Upas Tawarkan Keindahan Panorama Alam

Written By Kampus Kita Oke on Sabtu, 18 Januari 2014 | 23.50

MAU LIBURAN akhir pekan? Cobalah ke Bumi Perkemahan Ranca Upas, salah satu obyek wana wisata di daerah Ciwidey, Bandung Selatan. Selain hawanya sejuk, flora dan fauna yang beragam, Anda juga bisa menikmati keindahan panorama alamnya yang memukau.
Ranca Upas diminati pengunjung, salah satunya  karena keindahan panorama alamnya. Tak hanya para pecinta alam yang datang, dan menjadikan lokasi ini sebagai tempat berkemah dan aktivitas alam lainnya. Wisatawan yang berkunjung ke daerah Ciwidey pun, umumnya menyempatkan diri mengunjungi obyek wana wisata ini. Ranca Upas memang memanjakan para pengunjungnya dengan keindahan panorama alamnya.
Lokasi Bumi Perkemahan Ranca Upas tidak jauh dari gerbang utama Kawah Putih Ciwidey. Obyek wana wisata ini memiliki area seluas 215 ha dengan kekayaan alam perbukitan dan hutan alam yang sangat luas. Di atas ketinggian sekitar 1.700 dpl, hawa yang sangat sejuk di kisaran 18-23C menambah suasana alam di kawasan ini semakin memikat.
Hutan alam di kawasan ini juga ditumbuhi beberapa jenis pepohonan seperti puspa, jamuju, huru, kitambang, kihujan, hamirung, kurai dan pasang. Adapun fauna yang dapat ditemukan antara lain burung tekukur, gagak, elang serta surili, monyet dan macan.
 Pengunjung juga dimanjakan oleh adanya obyek Penangkaran Rusa Ranca Upas seluas 4-5 ha yang berada di dalam kawasan ini. Kawanan rusa tipe jinak yang pada awalnya didatangkan dari Kebun Binatang Ragunan Jakarta menjadikan daya pikat tersendiri obyek wana wisata Bumi Perkemahan Ranca Upas ini.
Ada beragam daya tarik yang dapat Anda lihat dan nikmati, seperti hawanya yang sejuk (18-23° C), panorama alam berupa perbukitan hijau di sekitarnya, kawasan hutan yang sangat luas, berbagai jenis flora dan berbagai jenis fauna.

Bumi Perkemahan Ranca Upas tepatnya berada di Desa Alam Endah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung dengan koordinat 7 8' 20" S, 107 23' 31" E.  Berada pada 56 km arah selatan Kota Bandung dan 15 km arah selatan Pangalengan (melalui jalan aspal yang dapat dilalui kendaraan roda empat dan roda enam. 
Fasilitas yang tersedia di lokasi ini area berkemah, menara pandang, musholla, MCK, dan kios-kios dagang. [] MZF, Ragam Sumber | BandungOke.Com 

Eksotisme Kawah Darajat

GARUT – Kabupaten Garut, salah daerah di Provinsi Jawa Barat yang memiliki beragam tempat wisata yang menarik. Salah satunya tempat wisata Kawah Darajat, yang terletak di atas pegunungan Papandayan, dengan jumlah dua kawah aktif dan 24 sumur uap yang digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik.

Tempat wisata yang menampilkan landscape eksotis dan pemandanan alam yang masih asri ini terletak di Desa Pandawaas, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut. Akses utama untuk sampai ke lokasi bisa melalui Garut kota.

Ketingian Kawah Darajat berada pada posisi 1920 meter di atas permukaan laut. Kawah Darajat merupakan keindahan alam yang tersembunyi di Kabupaten Garut. Hampir rata-rata lahan yang berada di kawasan Kawah Darajat ini pada umumnya berbukit terjal dan berlembah, dengan tingkatan kemiringan lahan yang agak curam dan stabilitas tanah yang cukup baik.

Tak Hanya Kawah

Bukan hanya kawah yang dikenal di tempat ini. Di tengah perjalanan menuju kawasan Kawah Derajat, kita akan menemui banyak tempat pemandiaan air panas. Salah satunya tempat pemandian air panas Darajat Pass, tempat wisata yang banyak disukai wisatawan untuk berendam dan rehat sejenak dari aktivitasnya.

Tempat pemandian air panas ini ramai dikunjungi jika liburan tiba. Untuk masuk ke tempat pemandian air panas kita akan dikenakan kocek karcis masuk, sebesar Rp. 15.000,-/orang.  Di kawasan pemandian air panas Darajat Pass kita akan menemulan kolam renang yang cukup luas, dan tempat bermain air untuk anak.

Dina Paramita (45), salah pengunjung asal Bandung, Sabtu (04/01) mengatakan, “Pemandian air panas di kawasan Kawah Darajat merupakan tempat pas untuk saya dan keluarga menghabiskan penutupan liburan anak-anak sekolah.”

Kendati di tempat ini belum ada hotel berbintang, namun tak perlu risau, Anda bisa menginap di homestay atau losmen, yang berderet di dekat pemukiman warga. Dengan uang sekitar Rp.300.000-Rp.500.000,- per/satu hari satu malam, Anda bisa leluasa beristirahat sejenak setelah melakukan perjalanan panjang.

Banyak wisatawan lokal maupun asing yang sengaja datang ke tempat ini hanya untuk rehat sejenak dari berbagai aktivitasnya.  Kawah Darajat memiliki bentangan lanscape yang lengkap  seperti gunung, hutan, dan dilengkapi dengan tanaman-tanaman langka. Tak heran banyak wisatawan atau pun fotografer yang mengabadikan momen liburannya dengan berfoto ria.


Sama halnya dengan Dina,  Reihan Ghifari (19), salah satu wisatawan asal Sukabumi juga menuturkan hal serupa. “Suasana di sini sangat beda dengan kota, di sini jauh dari kebisingan dan hirup pikuk. Pemandangannya masih elok dan asri,” ujar Dina, Sabtu (04/01). [] Wisma Putra | Jurnalistik UIN Bandung | BandungOke.com

Populer

Komentar

Terbaru

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INI DIA OKE - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger