Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Dakwah di Era Revolusi Informasi

Written By Kampus Kita Oke on Minggu, 19 Januari 2014 | 00.37

Oleh ENJANG MUHAEMIN

Teknologi modern menyerbu kita bagaikan air bah. Penemuan-penemuan baru yang diharapkan bisa membuat hidup manusia lebih nyaman, lebih sehat, lebih berbahagia, muncul setiap hari. Di samping sisi positif, tentunya perkembangan teknologi modern juga mengimplikasikan sisi negatifnya seperti lahirnya sikap materialistik, individualistik, dan sekularistik.
Dalam konteks itulah, kata Marwah Daud Ibrahim, dakwah diharapkan bisa menjadi pengimbang, penyaring, dan pemberi arah dalam hidup (1994:191).
Dakwah sebagai faktor pengimbang harus bisa membantu manusia untuk tidak hanya berkhidmat pada kehidupan duniawi yang kian dimegahkan oleh kemajuan teknologi canggih, tapi tetap menyeimbangkannya dengan kehidupan ruhaniah (akhirat). Sebagai penyaring, dakwah diharapkan mampu membantu manusia untuk dapat menetapkan pilihan-pilihan nilai yang lebih manusiawi dan islami. Sebagai pengarah, dakwah diharapkan dapat membimbing manusia untuk lebih memahami makna hidup yang sesungguhnya.
Di samping peluang dakwah yang kian terbuka untuk dilaksanakan secara luas dan mendunia, namun di sisi lain tantangan yang dihadapi para da’i pun memang tidak semakin ringan. Kian hari kian berat, dan kian kompleks. Oleh karena itu, para da’i dituntut menguasasi media-media yang terus berkembang tiada henti. Revolusi informasi yang kini sedang dijajakan sebagai suatu rahmat besar bagi manusia, adalah tantangan sekaligus peluang bagi para da’i untuk terlibat aktif di dalamnya.
Tanpa keterlibatan para juru dakwah dalam kancah revolusi informasi, bisa berbuah bahaya. Bukan hanya akan membuat umat tersesat, bahkan bukan mustahil akan melahirkan laknat-laknat baru yang tak terduga sebelumnya. Dalam konteks inilah, para da’i dituntut mampu menyikapi tantangan secara akurat, sekaligus mampu mengoptimalkan peluang yang muncul guna menyebarkan dan mendakwahkan Islam ke seantero dunia.
Tantangan yang dihadapi para da’i tidaklah semakin ringan. Tanda-tanda zaman menunjukkan hal tersebut. John Naisbit dan Patricia Aburdene dalam Megatrends 2000 menunjukkan kesamaan gaya hidup di seluruh dunia pada abd XXI, yakni globalisasi dalam 3F: food (makanan), fashion (mode pakaian), dan fun (hiburan). Jalaluddin Rakhmat (1991: 72-73) menambahkan 5F lagi: faith (kepercayaan), fear (ketakutan), facts (fakta), fiction (cerita rekaan), dan formulation (perumusan).
Mencermati realitas itu, menurut Jalaluddin Rakhmat (1991:70-75), para da’i dituntut bersikap dan melakukan tindakan yang tepat, di antaranya:
Pertama, para da’i dituntut mampu mengembangkan sistem informasi. Harus dilakukan koordinasi antarlembaga dakwah untuk mengembangkan berbagai data base system, untuk perkembangan dakwah dan pemikiran Islam. Laboratorium dakwah yang menghimpun data tentang khalayak dan materi dakwah harus didirikan dengan menggunakan teknologi komunikasi mutakhir.
Kedua, para da’i harus melatih para pengikutnya untuk mengembangkan kemampuan menerima, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Pada kurikulum dakwah harus ditambahkan kemampuan komunikasi. Tidak mungkin kita merebut jaringan informasi sekarang ini, bila tanpa memiliki kemampuan komunikasi yang memadai.
Ketiga, para da’i sebagai pelanjut Rasulullah SAW tidak boleh bertindak pasif. Mereka harus menyambut tantangan-tantangan yang ada di hadapannya dengan perencanaan yang baik. Kecintaan kita kepada peninggalan para ulama salaf sepatutnya tidak menyebabkan kita buta melihat masa depan.
Keempat, mengingat munculnya penyakit sosial dan keresahan psikologis masyarakat di era informasi yang kian menjadi, maka para da’i harus mampu melakukan gerakan dakwah yang terapeutis (bersifat menyembuhkan). Para da’i, selain sebagai pendidik, juga dokter jiwa. Para pasiennya adalah korban-korban globalisasi.
Kelima, para da’i adalah agen sosialisasi nilai-nilai Islam. Mereka ditantang untuk bersaing dengan agen-agen hiburan yang global. Sekarang para kyai tidak cukup hanya membacakan kisah-kisah dari Alqur’an, Sirah Nabi atau buku-buku seperti Durratun Nashihin. Mereka harus mengemasnya dengan memanfaatkan teknologi komunikasi mutakhir. Penggunaan media massa oleh para da’i menjadi sangat vital. []

Enjang Muhaemin, Staf Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

Buku Rujukan:
1. Marwah Daud Ibrahim. 1994. Teknologi, Emansipasi, dan Transendensi: Wacana Peradaban dengan Visi Islam. Mizan. Bandung.

2.  Jalaluddin Rakhmat.1991.  Islam Aktual, Mizan, Bandung.

Ini Dia Situs Megalith Gunung Padang

Oleh NANIK ANDRIYANI

SUATU saat di salah satu stasiun televisi, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memperkenalkan situs yang berada di Kabupaten Cianjur. Rasanya tempat itu sudah tidak asing bagiku, yang berdomisili di Sukabumi. Ketika pergi kuliah ke Bandung, aku sering melewati jalur tersebut. Dari pinggir jalan raya Gekbrong, terdapat tulisan “Situs Megalith Gunung Padang 20 Km.” Seketika hati ini tertantang untuk menginjakkan kaki ke sana, hingga akhirnya dengan penuh rasa penasaran aku pun pergi berdua bersama temanku.
Situs Megalith Gunung Padang merupakan salah satu peninggalan manusia purba. Konon menurut para arkeolog, situs ini sudah berusia sejak 4700 SM. Kawasan ini terletak di Kampung Cimanggu Desa Karya Murti Kec. Cempaka Kab. Cianjur, Jawa Barat. Orang pertama yang menemukan situs ini ialah seorang  arkeolog Belanda, tahun 1914. Tahun 1978, warga setempat menginformasikan ke pemerintah Cianjur. Sejak saat itu, pemerintah mulai memperhatikan pelestarian Gunung Padang ini. Tempat ini dulunya hanya hutan yang dipenuhi semak belukar, tapi kini menjadi bersejarah.
Kami melakukan perjalanan ini dengan sepeda motor supaya cepat menempuhnya. Menuju lokasi, kami memerlukan waktu 45 menit atau berjarak sekitar 20 KM. Jalan cukup bagus. Kontur jalan relatif banyak tikungan, karena memang merupakan daerah pegunungan. Di KM 14 memasuki Kp. Cibeber, kami disuguhi perkebunan teh yang sangat indah dan udara sejuk yang begitu menusuk kulit. Jangan takut untuk melalui tempat ini, soalnya masih banyak rumah penduduk dan pemetik teh.
Sesampainya di lokasi, kamia bertemu dengan juru kunci yang juga bertugas sebagai tour guide. Hanya dengan seribu rupiah kita dapat masuk menyusuri Gunung Padang. Dengan tarif begitu murah, banyak wisatawan berkunjung ke tempat ini. Menurut penduduk setempat, ada 3 tujuan wisatawan mengunjungi tempat ini, yakni ziarah, berwisata, dan penelitian.
Sabtu dan Minggu, tempat ini selalu ramai, sampai-sampai tempat parkir tidak cukup menampung. Jalan yang sempit menghadirkan kemacetan untuk mengakses jalan menuju tempat situs. Jadi, kalau mau puas datangnya hari-hari biasa saja, dijamin puas sekali rasanya menikmati indahnya Gunung Padang.
Perjalanan dimulai dengan menaiki anak tangga. Terdapat dua jalan alternatif, jalur cepat dan santai. Untuk jalur cepat, diperkirakan jarak ditempuh sekitar 130 meter, dan jalur santai 180 meter. Ketika sampai di atas, ternyata puncak Gunung Padang merupakan atap sebuah bangunan. Menurut para ahli, di bawah Gunung ini masih banyak ruangan yang belum terdeteksi. Jenis batu unik berbentuk balok juga menjadi daya tarik wisatawan. Jika dilihat struktur dan warnanya yang abu, batu ini tergolong batu andesit, batuan yang dihasilkan dari pendinginan larva setelah adanya gunung meletus.
Para peneliti sudah menggali sedalam 20 meter, yang harusnya bisa lebih. Hal ini dikarenakan pipa yang digunakan kurang panjang, jadi terhenti pada 20 meter. Rating Gunung Padang sekarang menduduki peringkat ke-1 atau ke-2 di dunia, sebagai situs tertua mengalahkan situs yang ada di Peru dan Mesir. Situs megalith ini juga menjadi situs terbesar se-Asia Tenggara.

Serba Lima di  Gunung Padang
Bila diamati, angka lima memang sesuatu yang amat bernilai. Misalnya rukun Islam ada lima, pancasila, jari tangan kita, dan masih banyak lagi. Begitu pun yang ada di Gunung Padang ini. Keistimewaan serba lima menjadi daya tarik, di antaranya gunung ini mempunyai lima teras dan undakan. Undakan terlihat baik dari kiri atau kanan, maupun di tengah ruangan, masing-masing berjumlah lima. Hal ini membuat pengunjung terkagum-kagum.
Menurut pengelola wisata, Abah Nanang (39), tiap teras mempunyai nama dengan filosopinya masing-masing. Untuk teras pertama ada Eyang Pamuka Lawang, yang melambangkan ucapan selamat datang. Bila dikaitkan dengan ajaran Islam, sama halnya ketika seseorang baru memeluk Islam, maka dianjurkan mengucapkan dua kalimat syahadat. Selain itu, terdapat Gunung Masigit, yang berarti pembuka mesjid untuk tempat beribadah nenek moyang kita.
Teras kedua disebut Mahkota Dunya dan pembatas berupa batu tapak Kujang (senjata tradisional Sunda) dan tapak kaki maung yang diartikan orang zaman dulu sebagai manusia tangguh. Jumlah tapak maung tersebut terdapat sembilan jari, melambangkan kekuatan Wali Songo. Mahkota Dunya simbol menjalankan harta di jalan Allah, seperti zakat, supaya harta yang kita miliki menjadi berkah.
Pada teras ketiga terdapat Keramat Nunggal. Keempat terdapat Batu Gendong. Menurut pengelola, siapa yang bisa mengangkat batu ini, berarti dia sudah membulatkan niatnya untuk segala sesuatu. Tentu yang paling utama dengan mengagungkan Yang Maha Tunggal. Terakhir  Batu Singgasana. Jika dapat menempuh semuanya, kita beristirahat dan jangan lupa tetap harus memohon doa kepada Yang Maha Esa.
Keunikan lain gunung ini, dikelilingi lima gunung, yakni Gunung Karuhun, Emped, Malati, Pasir Malang, dan Batu. Selan itu, Gunung Padang ini berorientasi ke barat laut, atau 5 derajat dari Lintang utara. Gunung ini juga menghadap ke 5 gunung yaitu, Gunung Batu, Pasir Bogor, Kencana, Gede, dan Pangrango. Mata air yang terdekat juga ada lima sumber.
Batu yang terdapat di Gunung Padang ini hampir 90% berbentuk segi lima. Biasanya alas atau muka berbentuk segitiga atau persegi, tapi di sini begitu berbeda. Menurut pemandu wisata Abah Nanang (39), sampai saat ini belum ada arkeolog manapun yang bisa memastikan dari mana batu-batu itu berasal. Entah dari letusan Gunung Gede atau manusia purba dulu yang membawanya dari suatu tempat, karena di sana tidak ditemukan lagi jenis batuan yang sama.
Jika kita tafsiran secara kasar, semua itu seperti terkait dengan jumlah jari tangan dan kaki yang masing-masing lima. Tingkatan kehidupan dari mulai alam ruh, rahim, dunia, kubur, dan akhirat. Dalam ajaran Islam dkenal rukun Islam yang jumlahnya ada lima yaitu, syahadat, shalat, zakat, puasa, dan naik haji.
Menurut Abah Nanang, saat dia mengenalkan situs Megalith kepada bu haji pemilik toko material di Sukabumi, bu haji itu terkejut. Setelah melihat foto yang dibawa Abah Nanang, bu haji bilang batu yang ada di situs mirip Jabbal Nur yang berada di Mekkah. Jabbal Nur berarti gunung bercahaya, sama seperti arti Gunung Padang. Dalam bahasa daerah, kata “padang” berarti terang. Jika diartikan, keduanya mempunyai arti yang sama. Subhanallah.

Prabu Siliwangi dan Manusia Purba
Di Gunung Padang ini, dulunya awal peradaban Sunda. Sunda di sini bukan berarti etnis atau golongan, tetapi suatu peradaban. Sunda dulu berarti Nusantara, bukan seperti sekarang yang terbatas hanya dengan menyebutkan Jawa Barat. Ini bukan lagi salah paham, tapi sudah berbalik paham salah. Ditilik lebih lanjut orang Sunda memang telah maju dari zaman dulu.
Sebenarnya, 4700 SM adalah waktu yang sangat lama, jika dibandingkan dengan Atlantis. Ternyata Sunda Land sudah maju terlebih dahulu. Peradaban maju telah teraplikasikan oleh zaman Prabu Siliwangi dan putranya Prabu Kian Santang atau Rohmat Suci. Konon katanya, Gunung Padang ini dahulu menjadi kerajaan Prabu Siliwangi. Seperti arti dari kujang sendiri adalah  “ku” yang berarti “oleh” atau dan “ujang” sebutan untuk anak lelaki, jika digabung menjadi “oleh kamu”. Kujang mempunyai pegangan, jadi dapat diartikan “peganglah kerajaan ini oleh kamu”. Ada sebagian yang berpendapat kerajaan ini diturunkan oleh Prabu Siliwangi untuk putranya Prabu Kian Santang.
Menurut penjual makanan, Abah Yanto (50), zaman dahulu tempat ini adalah pemukiman manusia purba. Batuan tersebut disinyalir dibawa manusia purba ke tempat ini, entah dari mana. Pada suatu saat, pasukan Prabu Siliwangi datang ke sini. Entah dengan kesepakatan atau pertempuran, akhirnya tempat ini menjadi milik Kerajaan Siliwangi. Tapi karena suatu hal--entah apa itu--pembangunan terhenti, maka terlihat sekarang seperti bangunan yang belum selesai.
Pendapat yang terlontar berbeda dengan Abah Nanang yang beranggapan bahwa ini memang bangunan yang sudah berdiri. Keadaan batuan yang berserakan mungkin karena dimakan usia. Entah mana yang benar. Wa’llahu’alam bisshowaf. Penasaran? Silakan, kunjungi saja situs bersejarah ini!
Sebagai generasi muda, harus bangga dengan sejarah nenek moyang, dan melestarikannya. Menyenangkan lho, hiking kaya gini, banyak ilmu alam yang akan kita dapatkan. Kekayaan alam ini belum seberapa, sepertinya masih akan terus ada peninggalan sejarah yang akan bermunculan.
Mencari fakta sejarah itu sungguh menyenangkan. Ketika kita tahu bahwa negara kita ini begitu banyak yang bernilai bersejarah, dari mulai bambu runcingnya dan keajaiban-keajaiban yang diakui dunia. Tentu kita akan bangga, begitu hebatnya nenek  moyang kita dahulu. Kita sebagai penerus, jangan hanya berdiam saja, bergerak menuju perubahan. 

Nanik Andriyani, Mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Televisi, Iklan, dan Sinetron

Written By Kampus Kita Oke on Sabtu, 18 Januari 2014 | 23.01

Oleh ADITIA WIRARAJA

PROGRAMdan iklan di televisi seharusnya memberikan pesan moral dan pendidikan yang baik. Pemirsa televisi bukan hanya kalangan dewasa saja, tetapi juga remaja dan anak-anak. Karena itu, etika dan norma yang berlaku selayaknya menjadi rujukan, agar tayangan televisi memiliki nilai positif dan konstruktif.
Maraknya program televisi dan iklan yang mempercontohkan gerakan dan perbuatan yang kurang baik, akan mebuat para penikmat televisi tak nyaman menontonnya. Dalam sinetron, misalnya, peran remaja yang mengenakan seragam sekolah, seringkali kurang baik. Seperti kemeja yang tidak rapih, dan celana yang kedodoran.
Pakaian pelajar putrinya, juga kerap kurang layak bila disebut seragam sekolah. Rok yang jauh di atas lutut, dan penggunaan aksesoris berlebihan. Ini menjadi contoh tidak baik bagi penonton, khususnya para remaja.
Begitu juga dengan program berita. Masih kita jumpai program-program berita yang tidak menyensor bagian-bagian yang seharusnya tidak dipertontonkan pada halayak. Seperti mayat-mayat, korban luka-luka, dan juga aksi-aksi pemukulan atau bentrokan antarkelompok.
Dalam iklan, juga sering kita jumpai hal-hal yang membuat tidak nyaman para penikmatnya, seperti iklan salep dan obat jerawat yang sering mempertontonkan luka yang tidak nyaman dilihat.
Adegan Kekerasan
Acara televisi yang mempertontonkan adegan-adegan berbahaya, juga sering kita jumpai. Memang imbauan agar tidak mencoba atau memperaktikkannya di rumah. Ada baiknya, imbauan itu pun dilakukan pada iklan, film, dan sinetron yang tayangannya menpertontonkan adegan kekerasan.
Sampai saat ini, masih marak iklan, film, dan sinetron yang memperlihatkan adegan berbahaya. Adegan tertabrak mobil, kebut-kebutan sepeda motor, melompat dari ketinggian, sebagai contoh, tentu akan sangat berbahaya bila ditiru.
Tayangan sinetron remaja, selayaknya mencerminkan kebaikan dan tatak rama yang baik, agar para remaja yang menontonnya menjadi ikut baik. Mungkin, ini tak akan menimbulkan kerugian para artis atau pun rumah produksi, justru akan mendapat apresiasi yang baik dari semua kalangan.
Untuk iklan-iklan kosmetik yang sering memperlihatkan luka-luka yang tidak nyaman, sebaiknya gambar tersebut ditiadakan. Mungkin bisa diganti dengan wajah-wajah yang mulus sebagai bukti atas pemakaian obat yang diiklankan. Ini akan lebih baik dipandang,  enak ditonton.
Untuk Iklan televisi, pada adegan-adegan berbahaya juga semestinya diberi imbauan agar tidak mencoba atau mencontohnya di rumah. Ini penting, agar pemirsa, khususnya penonton di bawah umur tidak meniru adegan serupa. []

 :: ADITIA WIRARAJA | Mahasiswa Jurnalistik | UIN Bandung

Populer

Komentar

Terbaru

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INI DIA OKE - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger